UAS Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains. Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis Praktis Kelemahan Model-model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh. hai teman-teman semuanya apa kabar ?, tentunya baik- baik sajakan dimanapun kalian berada . Perkenalkan saya ISTIQOMAH, Nim. P2A523027. saya dari Magister Pendidikan IPA. 

Disini ada terdapat  2 video tugas UAS Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains saya serta kelompok saya yaitu kelompok 3. 

Berikut saya akan menayangkan Video  ke-1 mengenai Model PBL dimana Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis Praktis. dan selanjutnya Video  ke -2 mengenai Kelemahan Model-model Pembelajaran dimana Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif. 

selamat menyaksikan teman- teman yang berbahagia.................

 

VIDEO 1 Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi




Selanjutnya VIDEO 2 Analisis Praktis Kelemahan Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum Dan Kolaboratif


Soal No 1. Buat video singkat aplikasi model pembelajaran sains berbasis disrupsi inovasi melalui tutor sebaya (siswanya dapat teman satu kelas).

 

Penjelasan:

Pembelajaran Era Disrupsi Inovasi ini melatih siswa untuk memiliki kemampuan 4C (creative thingking, critical thingking, collaboration dan communication). Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan yaitu Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran inovatif. Model pembelajaran ini dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa dimana siswa terlibat untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Dengan demikian, siswa akan dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.

Langkah-langkah Model PBL:

1.   Kegiatan pembukaan

-          Guru mengucapkan salam

-          Berdo’a sebelum memulai pembelajaran

-          Guru menanyakan kabar siswa

-          Guru mengajak siswa ice breaking dan memotivasi siswa

-          Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan manfaatnya  dalam kehidupan sehari-hari.

2.   Kegiatan Inti

1.      orientasi siswa pada masalah

·         Peserta didik membentuk kelompok.

·         Peserta didik mengamati  video terkait permasalahan pernafasan di lingkungan masyarakat melalui link https://www.youtube.com/watch?v=miE5BKEYMZE  atau  melalui LCD proyektor yang disajikan guru.

·         Setelah mengamati video, guru menstimulus peserta didik dengan memberikan pertanyaan

-          “Apakah frekuensi pernafasan setiap orang itu sama?”

-   “Bagaimanakah perbedaan frekuensi pernafasan orang yang berbadan kurus dengan orang yang memiliki berat badan tinggi”

-      “Mengapa terjadi perbedaan frekuensi pernafasan tersebut?”

·         Peserta didik diarahkan untuk menyebutkan alterlatif solusi sementara terkait permasalahan yang diberikan.

          2.      mengorganisasi siswa untuk belajar

·         Guru mengajak peserta didik untuk membuktikan argument mereka dengan melakukan penyelidikan.

·         “Nah, untuk membuktikan kebenaran argument yang telah kalian ajukan, mari  buktikan dengan melakukan penyelidikan.”

·         Peserta didik diberikan sumber literasi belajar  berupa handout/bahan bacaan

·         Peserta didik dipantau oleh guru dalam melakukan penyelidikan.

·         Peserta didik melakukan diskusi dalam menemukan solusi terkait permasalahan gangguan pernafasan.

 

3.      membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

·         Peserta didik dipantau oleh guru dalam melakukan percobaan dan penyelidikan.

·         Peserta didik melakukan penyelidikan dengan percobaan untuk membuktikan argument sekaligus menganalisis besar frekuensi pernafasan setiap  orang teman .

4.      mengembangkan dan menyajikan hasil

·      Peserta didik secara berkelompok merumuskan kesimpulan tentang besarnya frekuensi pernafasan 5 orang   teman yang berbeda.

·         Peserta didik menganalisis penyebab adanya perbedaan besarnya frekuensi bernafas setiap orang.

·         Guru membimbing peserta didik  mengisi table pengamatan.

·         Peserta didik menyajikan hasil penyelidikan pada LKPD.

5.      menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

·         Guru melakukan evaluasi kepada peserta didik 

·         Peserta didik yang mendengarkan diminta menanggapi dan memberi komentar.

3. Kegiatan Penutup

-          Peserta didik dibimbing oleh guru merefleksi seluruh aktivitas pembelajaran yang dilakukan dan menyimpulkan konsep yang telah dikonstruksi oleh peserta didik berkaitan dengan frekuensi mekanisme pernafasan manusia.

-          Guru memberikan refleksi kepada siswa berupa pemberian pertanyaan

-          orientasi siswa pada masalah

 

 Soal No 2. Analisis Praktis Kelemahan Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum Dan Kolaboratif.

 

Penjelasan:

 

1.   Model Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang menekankan keterlibatan semua peserta didik melalui kegiatan diskusi kelompok kecil. Kelompok kecil tersebut terdiri dari beberapa peserta didik yang kemampuan berbeda. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang ditugaskan dan biasa disebut sebagai pembelajaran gotong royong. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah membentuk peserta didik menjadi pribadi yang lebih kuat dan peduli pada sesama, menciptakan keaktifan serta keterlibatan semua peserta didik dalam pembelajaran, meningkatkan nilai akademik pembelajaran melalui kerja sama dalam kelompok, dan mengembangkan kepekaan sosial peserta didik.

 

Beberapa kelemahan dari penerapan model pembelajaran kooperatif antara lain:

-            membutuhkan waktu yang lama dalam perencanaan dan penerapannya

-            guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang dan membutuhkan banyak tenaga

-            membutuhkan fasilitas, alat dan bahan yang memadai

-            kesulitan membentuk kelompok yang solid

-            siswa yang lebih banyak mengobrol daripada fokus mengerjakan tugas,

-      kurang cocok untuk siswa yang kurang aktif. Tidak semua siswa mungkin aktif dalam kelompok, sehingga ada potensi bagi beberapa siswa untuk "tertumpu" pada anggota kelompok yang lebih dominan.

-            kesulitan menilai siswa sebagai individu karena individu berada dalam kelompok

-           memerlukan keterampilan khusus dalam mengelola kelompok agar tujuan pembelajaran tercapai

2.   Model Kuantum

Model Quantum Learnig merupakan salah satu model pmbelajaran yang dilakukan dengan lingkungan belajar yang menyenangkan akan mampu menggabungkan rasa percaya diri, keterampilan belajar, dan keterampilan berkomunikasi. Adapun tujuan dari pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menciptakan proses belajar yang menyenangkan, menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak, membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir serta membantu mempercepat dalam pembelajaran.

Beberapa kelemahan dari penerapan model pembelajaran kuantum antara lain:

-          Memerlukan persiapan yang matang bagi guru dan lingkungan yang mendukung.

-          Memerlukan fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai

-          Model ini dapat membuat ketidakteraturan di dalam kelas

-          Memerlukan waktu yang lama dalam pelaksanaannya

-          Kurang dapat mengontrol siswa

Pembelajaran kolaboratif adalah model pembelajaran yang mempengaruhi peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk menuju tujuan bersama.Tujuan model kolaboratif adalah memudahkan para siswa belajar dan bekerja bersama, saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara kelompok maupun individu.

Beberapa kelemahan dari penerapan model pembelajaran kuantum antara lain:

-          Memerlukan pengelolaan waktu yang efektif agar semua siswa dapat berkontribusi secara merata.

-      Diperlukan pemahaman yang kuat tentang dinamika sosial dan kemampuan untuk memfasilitasi kolaborasi antar siswa.

-          Memerlukan infrastruktur dan jaringan teknologi informasi komunikasi yang stabil dan efisien

-     Memerlukan pengawasan yang baik dari guru, karena jika tidak dilakukan pengawasan yang baik, maka proses kolaboratif dapat terganggu

-       Tidak semua aspek pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, sehingga perlu perhatian khusus dalam memastikan semua aspek tercakup dengan baik

-          Ada kecenderungan mencontoh pekerjaan orang lain

-          Memakan waktu yang cukup lama

-          Sulitnya mendapat teman yang dapat bekerja sama

-     Ada kemungkinan peserta didik kurang aktif dalam kerja kelompok, terutama ketika topik yang diberikan pada masing-masing kelompok berbeda, sehingga dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami dengan baik

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelemahan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif dapat bervariasi, namun beberapa faktor umum meliputi:

 

-        Kesiapan dan Pelatihan Guru: Kesiapan dan pelatihan guru dalam menerapkan model-model pembelajaran tersebut dapat memengaruhi efektivitasnya.

-     Keterbatasan Sumberdaya: Keterbatasan sumberdaya, seperti ruang kelas dan materi pembelajaran, dapat menjadi hambatan dalam penerapan model-model pembelajaran tersebut.

-     Karakteristik Siswa: Perbedaan dalam gaya belajar dan tingkat keterampilan siswa dapat memengaruhi efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif.

-     Kesulitan dalam Pengelolaan Kelas: Pengelolaan kelompok belajar dan interaksi antar siswa dalam model-model pembelajaran tersebut dapat menjadi tantangan bagi guru.

-    Kurangnya Dukungan Institusional: Kurangnya dukungan dari pihak sekolah atau institusi pendidikan juga dapat mempengaruhi keberhasilan penerapan model-model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif.


Solusi yang dapat dilakukan dalam mengatasi kelemahan tiga model pembelajaran yaitu Model  Kooperatif, kuantum dan Kolaboratif  yaitu:

-       Monitoring Kelompok adalah Pastikan untuk secara aktif memantau dinamika  kelompok. Jika ada ketidaksetaraan kontribusi, intervensi diperlukan.

-        Pemilihan Materi yang Tepat adalah Pastikan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat pemahaman semua anggota kelompok, agar tidak ada yang merasa tertinggal.

-     Pengelolaan Waktu adalah Perhatikan pengelolaan waktu dalam sesi kooperatif, kuantum, dan kolaborasi. Pastikan kegiatan tidak terlalu lama atau terlalu singkat sehingga menciptakan ketidaknyamanan.

-    Fasilitasi Aktivitas Kelompok adalah Bantu kelompok dalam merencanakan dan melaksanakan tugas mereka. Fasilitasi diskusi dan pastikan semua anggota terlibat aktif.

-       Evaluasi Individual Selain penilaian kelompok, pertimbangkan juga penilaian individu untuk memahami kontribusi masing-masing siswa.

-       Pelatihan Keterampilan Sosial adalah  Berikan panduan atau pelatihan keterampilan sosial kepada siswa agar mereka dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan efektif.

-      Variasi Model Pembelajaran adalah Gabungkan model pembelajaran kooperatif dengan model lain untuk memastikan variasi dan memenuhi kebutuhan belajar yang beragam.

-      Refleksi dan Umpan Balik adalah Anjurkan refleksi kelompok secara berkala dan berikan umpan balik konstruktif untuk perbaikan.

-          Keterlibatan Orang Tua adalah Melibatkan orang tua dalam mendukung kegiatan pembelajaran kooperatif, kuantum dan kolaborasi dapat membantu mendukung keberhasilan siswa.

 

Semoga bermanfaat, terimakasih. Wassalamu'alaikum.

Nama Kelompok 3:

1. Elda Meitafia                      (P2A523002)

2. Puji Rizky Widyaningsih    (P2A523007)

3. Laila Fitria                           (P2A523015)

4. Sabila Eka Septi                  (P2A523019)

5. Istiqomah                            (P2A523027)

 

Dosen Pengampu:

Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si.


Mata Kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains

Program Studi Magister Pendidikan IPA

Universitas Jambi

2023



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS : COOPERATIVE LEARNING

MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS : KECERDASAN MAJEMUK

QUANTUM LEARNING ( Pembelajaran quantum )